Friday, January 25, 2013




"Selamat datang di Gerenasi 7! Sebutannya Djitoe"
"Kita bakal punya macam-macam kegiatan TG (Temu Generasi) pertemuan dari generasi 7 tingkat atas yang sudah pada kuliah. terus juga ada cheerliar. jadi semua cowok kelas kalian wajib ng-cheer dan ceweknya wajib bikin pom pom"
 

SMA? Part 3


di hari terakhir MOS kita disuruh menampilkan sesuatu. kelompokku milih drama musikal gitu. dan kalian harus tau gimana Wira p5 tampil waktu drama musikal kelompoknya! Dia beneran bikin semua orang ketawa. dia beneran berasa artis yang menganggap penggaris kayu panjang yang dia bawa itu gitar. dia asik sok sok main gitar. kelilingin lapangan. sok asik juga di depan mbak mas. ASTAGAAA!!! Indah kamu harus lihat kelakuan pacarmu waktu itu! *disawat indah* hahaha.

***

terus masuk ke sesi puncak. dibacakan sesuatu yang bikin hampir semua anak nangis. waktu itu aku duduk sebelahnya arvin. muka polos kita bisik-bisik bilang
"heh kamu nangis?"
"gak. kamu pisan yo?"
"iyoo gak. gak sedih ah perasaan"
 endingnya....
*kita semua nangis* *facepalm*

SMA? part 2


hari H MOS. aku dapet kelompok 4. kenalan sama anak satu kelas. terus pemilihan ketua kelompok. waktu itu entah kenapa aku mencoba berani maju haha aneh ya? padahal setelahnya jadi anak ansos :p
ada 3 anak yang memberanikan diri buat mencalonkan diri jadi ketua kelompok

"nama saya amry dari SMP 3"
"nama saya galuh dari SMP 1"
"nama saya arvin dari SMP Al-Hikmah"
*dalem hati aku mikir. nama dua anak ini asing semua yaa. tadi siapa? army? avrin? halaah susahnya namanya*. akhirnya amry yang kepilih jadi ketua dan aku wakilnya. kasian si avrin, eh arvin.

***

hari pertama MOS disuruh bawa bekal makanan. nindy sms aku
"gal, nasi goreng kamu taruh tepak makan kan?"
"sek sek aku tak tanya anak sek ya"

aku online facebook. cari nama yang muncul di chat. cuma ada regi. yaudah akhirnya aku nge chat dia (sebelumnya kita emang udah kenal tapi lewat dunia maya).
"reg, nasi ditaruh tepak makan kan?"
"iyaa"

"iyaa nin, kata regi taruh tempat makan"
"oke sip"

SMA? part 1


Kalo udah lulus gini, biasanya aku suka cerita gimana masa-masa di sekolah yang lama. kayak waktu aku lulus SMA terus cerita tentang masa SMP ku. Nah sekarang pengen cerita masa SMA nih. masa yang kata orang paling indah (setuju gak?)

Alhamdulillah diterima di SMAN 5 Surabaya sekitar bulan Juni 2009. Bahagia? Pasti! Sekolah yang memang tak idam-idamkan dari jaman SMP. Sekolah favorit. Titik. Iyaa pengetahuanku tentang sekolah impianku cuma sampek situ. Gak lebih dan gak kurang sampek dateng pengumuman dari ibuku "Dek, kamu sabtu disuruh dateng pra-MOS. pake blablabla"

Perasaanku waktu itu bener-bener datar bin biasa. Malahan cenderung seneng. terus aku diarahkan ke sebuah kelas gitu. asik, ada mbak mas yang baik buat ngajak kita semua kenalan terus main game. ditengah-tengah main game, entah kenapa ada satu orang mbak yang manggil namaku dan beberapa anak lain dan kita disuruh keluar. hmm lumayan aneh, tapi jujur gak ada feeling apa-apa.

begitu keluar kelas, yang aku rasain malah jd kaget "lho ini ada apa?" setengah sadar aku denger mbak yang tadi manggil namaku ngasih beberapa instruksi tapi aku beneran terlalu kaget dan gak bisa denger apa-apa. pandanganku cuma tertuju ke lapangan tengah sampek aku denger si mbak teriak "ayo lari! lari! cepat!"

***

"SIAPNYA MANA DEK?!"
dengan polosnya aku menunjukkan sikap siap yang sempurna
"SIAPNYA MANA DEK?!"
sekali lagi, aku merapatkan kaki dan menegakkan dagu
sepertinya si mbak sudah pasrah dan bilang
"dek kalo saya bilang siapnya mana kamu jawab 'siap mbak'"
"SIAP MBAK!" *ini sungguhan ngerasa goblok aku, ternyata emang udah dikasih tau dr awal kalo ditanya siapnya mana harus jawab "siap mbak mas"

Sunday, January 20, 2013


" Bahwa yang kubutuhkan untuk bertahan hidup bukanlah api Gale, yang dikobarkan oleh kemarahan dan kebencian. Aku sendiri punya banyak api. Yang kubutuhkan adalah bunga dandelion pada musim semi. Warna kuning cerah yang berarti kelahiran kembali, bukannya kehancuran. Janji bahwa hidup bisa berlanjut, tak peduli seburuk apapun kami kehilangan. Bahwa hidup bisa menjadi baik lagi. Dan hanya Peeta yang memberikan semua itu. Lalu setelahnya, ketika Peeta berbisik, "Kau mencintaiku, nyata atau tidak nyata?" Kujawab dia, "Nyata." "

- Mockingjay