Saturday, April 22, 2017

Ngomongin hal menye



Pernah baca Madre karangan Dee gak? Sebenernya itu semacam kumpulan cerpen, gak semua cerpennya aku suka sih, tapi Menunggu Layang-layang nih jadi salah satu yang favorit. Disitu diceritain tentang persahabatan dua orang, yang satu berkali-kali jatuh cinta tapi gapernah merasa puas sama pasangannya, yang satu ngejalanin rutinitas monoton dan takut jatuh cinta. Tapi intinya sama, mereka berdua kesepian.


Starla : Suatu saat nanti, aku akan punya rumah sendiri, di atas gunung. Aku akan punya suami yang baik dan setia. Kami punya dua orang anak yang lucu-lucu. Satu laki-laki, satu perempuan. 


Che : Ternyata, di balik kecanggihanmu, mimpimu superstandar. Tampilannya aja milenium, isinya Maemunah.


Starla : Masih lebih bagus daripada manusia nggak punya mimpi kayak kamu.


Che : Aku punya mimpi! Aku bakal jadi arsitek spesialis gedung pencakar langit nomor satu di negeri ini. Nanti rumahku berhalaman luas, di pinggir Jakarta, dan ... ada seorang istri cantik yang jago masak. Anak laki-laki kami cerdas, jago main game. Istriku bawa sepiring kue buatan sendiri yang masih panas, memanggil-manggil aku dan anakku yang keasyikan main game..


Starla : Tampilan Superman, isinya Suparman.


Che : Setidaknya aku bisa menghargai perasaan orang.


Starla : Kamu pikir aku nggak bisa?


Che : Gini analoginya. Aku suka lukisan. Tapi untuk punya satu, aku bakal berkunjung ke puluhan galeri dulu, baru menentukan pilihan. Nah, kamu itu kolektor. Kamu boyong apa saja yang kira-kira bagus, tapi bukan untuk dimiliki. Kamu jual lagi barang-barang berharga itu kayak dagang sembako.


Starla : Kamu ngomong apa sih sebenarnya?


Che : Aku lagi bicara soal Rako, lalu si produser rekaman, si gitaris, kontraktor, foto model, aktor sinetron, atlet basket, dosen, pengacara, pengusaha restoran, sampai gay yang mau jadi straight demi kamu. Mereka bertekuk lutut demi kamu bawa pulang. Tapi semuanya lewat gitu aja barang dagangan. Kamu nggak mau memiliki dan dimiliki siapa pun. Tapi kenapa terus-terusan mencari dan menyakiti orang?


Starla : Aku juga bingung apa yang sebenarnya kucari. Yang jelas aku nggak bisa kayak kamu. Bertahan dalam kesepian.


Che : Kesepian? Hei...


Starla : Selama ini kamu pikir apa artinya hidup kamu yang konstan kayak mesin pabrik? Lagu-lagu pembangkit mood yang kamu racik kayak apoteker bikin obat? Kamu kesepian.


Starla : Hidup kayak robot adalah satu-satunya cara yang kamu tahu untuk melindungi dirimu dari sepi. Kamu takut sama spontanitas. Kamu takut lepas kendali. Kamu ingin cinta, tapi takut jatuh cinta. But you know what? Kadang-kadang kamu harus terjun dan basah untuk tahu air, Che. Bukan cuma nonton di pinggir dan berharap kecipratan.


Che : Oke, Miss Freud saya juga punya analisis tentang kamu. Selama ini, kamu mengisi kekosonganmu dengan sibuk mengisi kekosongan orang lain. Saking kamu sibuk sendiri, mereka nggak pernah diberi kesempatan untuk mengisimu balik. Jadi wajar aja kalau nggak satu pun dari mereka bisa memuaskan kamu. Kamu selalu merasa ada yang kurang. Tadinya saya pikir dunia ini nggak adil, Starla. Ternyata saya salah. Dunia ini adil. Cause you know what? Ke mana-mana kamu selalu kelihatan berdua. Tapi sebenarnya kamu sendiri. Selalu sendiri.Nah kembali ke analogimu tentang air itu, kamu memang terjun ke air. Tapi kamu pakai baju selam.

Starla : Kamu benar. Ternyata kita sama, Che. Aku dan kamu sama-sama manusia kesepian. Bedanya, aku mencari. Kamu menunggu.


Dari cerpen ini aku sadar sih, pertama kalo ngomongin tentang jatuh cinta mau gak mau harus nerima segala konsekuensinya. Kalo kecebur, yaudah berenang dan jangan berharap buat gak basah karena itu gak mungkin kan? Yang kedua, jangan sibuk ngisi kekosongan orang lain tapi gapernah ngizinin orang lain ngisi kita. Kayak postingan salah satu sahabat saya di blognya nih Nindy's blog

I always believe that a relationship is a two-way street. Entah itu hubungan ayah – anak, suami – istri, atau sepasang sahabat. Karna itu, sebuah hubungan perlu diperjuangkan dua pihak. Dan bagiku, memperjuangkan tuh nggak melulu tentang menyatakan sayang, atau menolong di saat susah dan menemani di saat suka.
Mengijinkan dia untuk menolong kita saat susah, menghadirkan dia untuk menemani kita saat suka… bagiku juga sebuah bentuk perjuangan. Karna pada dasarnya, manusia itu juga perlu merasa dibutuhkan.
Biarkan hubungannya menjadi timbal balik, saling memberi, saling meminta. Saya tuh paling kesel kalo ada yg nggak mau minta tolong dan mendem semua sendiri, tapi ujung-ujungnya bakal bilang “dia nggak mau ngertiin aku :(” atau “dia nggak pernah ada buat aku :(” Ya elu nggak bilang. Kita dikasih kemampuan komunikasi tuh dipake, jangan pake bahasa kalbu, w kagak paham ((kok mara mara))
Sebuah hubungan itu… tentang hadir dan menghadirkan. Jangan egois maunya hadir tapi nggak pernah ngijinin dia buat hadir. So, tell him when you need him. If he loves you, he would be happy to be there either at your lowest point or your top. Let him be. ((Enggak, saya nulis ini bukan karna berantem ama pacar. Saya masih nggak punya pacar. Makasih.))


We do deserve to be happy


Kadang kalo denger cerita hidup orang lain tuh bikin merasa bersyukur, tapi kadang juga bikin ngerasa kenapa kita gabisa sebahagia dia? Kenapa hal-hal yang membahagiakan dihidup kita diambil? Seolah-olah kita gak pantes buat bahagia. Tapi belakangan baru sadar, kalo seseorang dikasih cobaan (yang menurut kita mungkin ringan), soalnya Allah tau ambang stres dia rendah. Dan mungkin ambang stres kita lebih tinggi jadi kita dikasih cobaan (yang menurut kita seolah-olah) lebih berat. Dan pada akhirnya, suatu hari kita bakal "naik kelas" tentang proses menjadi sabar dan lebih bersyukur. Jadi inget dulu salah satu sahabatku curhat pas lagi stres-stresnya ospek "Ya senior gampang aja bilang 'kalin semua dapet beban yang sama' tapi mereka gapernah mikir kalo cara kita menerima beban yang dikasih tuh beda-beda". Makanya, Allah yang paling ngerti isi hati manusia nyiptain beban hidup setiap orang beda-beda kan?

"Allah does not charge a soul except [with that within] its capacity. It will have [the consequence of] what [good] it has gained, and it will bear [the consequence of] what [evil] it has earned. "Our Lord, do not impose blame upon us if we have forgotten or erred. Our Lord, and lay not upon us a burden like that which You laid upon those before us. Our Lord, and burden us not with that which we have no ability to bear. And pardon us; and forgive us; and have mercy upon us. You are our protector, so give us victory over the disbelieving people." (Al-Baqarah:287)

Sunday, April 9, 2017

Graduation!










Sebenernya kalo boleh jujur, momen wisuda itu biasa aja. Tidak sesakral dan seseru yang aku bayangin. Tapi after partynya, bikin aku sadar kalo ternyata banyak orang yang luar biasa sayang dan peduli. Kalo ternyata hal terbaik dari wisuda adalah orang tua kita yang bahagia ngeliat kelulusan anaknya. Waktu itu liat hape Umik dan nemuin video pas namaku dipanggil maju buat salaman sama Bapak Dekan dan Bapak Rektor, disitu Umik langsung teriak "eee anakku sayang, Galuh Anis Tasya" dengan nada bahagia. Dan aku ngerasa terenyuh banget :')

Mungkin emang gak bisa kasih predikat mahasiswa terbaik, tapi semoga predikat anak terbaik bisa aku dapet ya, Mik. Syukur-syukur setelah ini ngasih mantu sama cucu terbaik? ((Ahelah)) ((Baru juga stase forensik Gal))


Menjadi bahagia.


“Lo punya hak untuk bahagia, Ca. Gue–gue punya tanggung jawab untuk bahagia,” Adit memainkan sendok di dalam cangkir.

Kica menerawangi langit-langit, tidak ada apa-apa di sana.

“Menjadi bahagia itu urusan masing-masing orang. Lo nggak perlu merasa bersalah apalagi berdosa kalau lo bahagia, sementara orang lain enggak. Yang punya tanggung jawab menjadi bahagia dan membahagiakan diri, ya, adalah diri masing-masing orang, Ca.”

Mata Kica mulai tergenang. Kak Adit ngaku.

“Kalau kebahagiaan kita terletak pada bahagianya orang lain gimana, Kak?”

“Sungsang. letak kebahagiaan harusnya di dalam, bukan di luar.”

“Kalau orang lainnya ada di dalam gimana, Kak?”

Adit meneguk kopinya. Sudah dingin.
“Bisa jadi seseorang berada di dalam hati kita, Ca. tapi nggak berarti urusan dalam hatinya–urusan kebahagiaannya–menjadi tanggung jawab kita,” Adit menjeda lama, “Jangan menggantungkan kebahagiaan diri sendiri sama orang lain, ya, Ca. sama siapapun, jangan. dan jangan pernah berharap lo menjadi sumber kebahagiaan orang lain, jangan.”

“Supaya kita tetap bahagia apapun keadaannya?”

Adit menggeleng, “supaya kita inget bahwa menjadi bahagia adalah tanggung jawab kita.”

-Teman Imaji

Saturday, April 8, 2017

Stase pertama: Forensik


Karena sekarang gabisa review tiap semester, jadi mau nyoba review tiap stase aja. Kebetulan stase pertama dapetnya forensik, stase yang kata orang paling gabut. Stase forensik ini biasanya ngelakuin visum hidup (korban hidup yang ditemuin polisi terus dibawa ke rumah sakit buat berobat, biasanya kasus kecelakaan lalu lintas), visum mati (korban mati yang ditemuin polisi, terus perlu dilakukan pemeriksaan matinya wajar atau gak, biasanya orang yang ditemukan mati dipinggir jalan karena serangan jantung atau asma), sama otopsi (ini meriksa korban meninggal sampe ngebuka isi otak, isi perut, cek urin segala macem buat tau dengan pasti dia meninggalnya kenapa, biasanya kasus kejahatan kayak kopi mirna itu). Di stase ini, sistem jaganya 24 jam, misal jaga pas hari kuliah terus ternyata ada panggilan visum, yaudah boleh gak ikutan kuliah.

Nah waktu itu kebetulan dapet jaga hari Sabtu, bayangin dong jaga hari Sabtu sampe Minggu pagi itu rasanya hidup cuma habis buat di rumah sakit doang. Pertama kali jaga, dapet delapan kasus visum. 3 meninggal, 5 hidup. Kasus meninggal pertama normal, emang udah lama di rumah sakit. Kasus meninggal kedua nih jenazah yang udah meninggal berminggu-minggu dan udah mengering gitu kayak mumi tapi juga berlendir, bau, ada telur, kepompong sampe belatung sama lalat. Sebau itu sampe rasanya berkali-kali aku mau muntah, but I kept telling my self "You can do this, keep breathing dude. Chill". Pas dini harinya dapet 5 kasus tabrakan, ya maklum sih kan itu malem Minggu pasti banyak orang keluar bersenang-senang. Dan bener aja, salah satu korbannya emang dalam keadaan mabuk. Jadi beberapa kali disuruh temenku buat diem soalnya dia tuh berlumuran darah banget tapi maksa bangun dari tempat tidur sambil ngigau gitu. Aku pribadi takut sih, pertama takut dia berontak dan nyerang aku karena kesadarannya gak penuh, kedua aku takut kena darahnya. Karena kan aku gapernah tau dia punya penyakit apa, mengingat dia punya banyak tato dan dalam keadaan mabuk (susah husnudzon kalo kyaka gini). Baru agak paginya, dapet kasus gantung diri.

Seru sih, karena kasus yang aku dapet tuh beda-beda banget. Kalo pembusukan tadi masuk di bab tanatologi. Bab yang mempelajari tentang keadaan tubuh orang yang sudah meninggal. Jadi kita bisa tau nih kalo udah terjadi mumifikasi berarti umur mayat lebih dari 12 hari, kalo ada telur lalat berarti meninggal 8-14 jam, kalo ada larva berarti dia meninggal 9-12 hari. Nah kalo meninggal gantung diri itu masuk di bab asphyxia. Disini kita diajarin macam-macam asphyxia (orang yang meninggal karena kehabisan nafas), jadi bisa gara-gara kesedak, dicekik, dijerat, gantung diri, bahkan tenggelam. Dibedain juga tuh tenggelam di air tawar atau air asin. Ada pertanyaan dosenku lebih busuk mana orang yang mati di air tawar atau asin? Jawabannya air tawar soalnya kita sering nemu ikan diasinin kan?

Gosip yang aku denger, mayat tenggelam di air itu baunya yang paling gak enak. Dan alhamdulillah dapet kasus tenggelam walaupun waktu itu bukan aku yang jaga tapi tetep bisa liat otopsi. Jadi mayatnya ini anak kecil yang baru lahir dan dibuang ke air laut. Pas ikutan otopsi, baunya sesuatu banget, jauh lebih bau dari pada korban mumifikasi tadi. Padahal ini cuma bayi yang seukuran kecil gitu, gak kebayang gimana baunya korban-korban tsunami dulu. Salut banget sama para relawan.

Selain itu juga dapet kasus luka bacok. Jadi di forensik tuh diajarin cara bedain luka akibat benda tajam atau benda tumpul. Ada juga nih kasus luka akibat bahan kimia, jadi ada cewek yang disiram air keras sama orang, dan di forensik kita juga diajarin cara ngebedain luka akibat bahan kimia basa atau asam.

Dunia koas sejauh ini bikin aku makin paham sama yang aku pelajarin. Mungkin emang belum kerasa yang secapek itu, tapi semoga kedepannya tetep ngerasa banyak dapet ilmu yang bermanfaat deh, dan semoga juga tetep bisa bahagia ya karena itu yang paling penting :')


Kejujuran dan Integritas



Aku pernah cerita kayanya dipostingan yang dulu, kalo aku sudah ngehapus sistem nyontek dari metodeku cari ilmu. Ternyata gak susah tetep pegang prinsip walaupun kanan kiri tetep melakukan. Walaupun kanan kiri dapet hasil lebih baik. Alhamdulillah 3,5 tahun (+1 tahun di ITB) terlewati dengan tetap berprinsip. Tapi sebenernya, gak semua praktikku berjalan bersih sih, soalnya kadang aku juga jadi "sumber", yang berarti aku menghalangi diriku keluar tapi aku gak menghalangi orang lain masuk. Makanya belum sebaik itu juga.

Nah masuk ke dunia koas, ternyata ada satu lagi prinsip yang perlu dipegang buat cari ilmu. Namanya integritas. Kata C. S. Lewis, "Integrity is doing the right thing even when no one is watching". Karena di dunia koas lebih banyak praktiknya, lebih banyak tindakan ke pasien yang mungkin aja aku bisa "lari" dari kewajibanku ke pasien, yang mungkin aja aku lalai gara-gara aku manusia biasa yang butuh tidur waktu malem, yang mungkin aja aku segitu egoisnya dengan lebih milih ngerjain tugas dan seabrek tanggung jawabku yang lain dibanding ngecek tanda-tanda vital pasien. Jadi inget waktu itu pernah update foto wisuda di facebook dan dikomen Mbak Nanda, kakak kelas di fk angkatan 2011 "Selamat ya Galuh. Semoga integritas dan idealismemu tidak berkurang kadarnya di tengah kehidupan DM" dan sekarang baru beneran paham maksudnya kayak gimana.

"Percayalah diantara tidur-tidur malammu yang hilang, ada doa-doa yang membantu ujianmu" - Irma Talitha.