Pernah baca Madre karangan Dee gak? Sebenernya itu semacam kumpulan cerpen, gak semua cerpennya aku suka sih, tapi Menunggu Layang-layang nih jadi salah satu yang favorit. Disitu diceritain tentang persahabatan dua orang, yang satu berkali-kali jatuh cinta tapi gapernah merasa puas sama pasangannya, yang satu ngejalanin rutinitas monoton dan takut jatuh cinta. Tapi intinya sama, mereka berdua kesepian.
Starla : Suatu saat nanti, aku akan punya rumah
sendiri, di atas gunung. Aku akan punya suami yang baik dan setia. Kami punya
dua orang anak yang lucu-lucu. Satu laki-laki, satu perempuan.
Che : Ternyata, di balik kecanggihanmu, mimpimu
superstandar. Tampilannya aja milenium, isinya Maemunah.
Starla : Masih lebih bagus daripada manusia nggak
punya mimpi kayak kamu.
Che : Aku punya mimpi! Aku bakal jadi arsitek
spesialis gedung pencakar langit nomor satu di negeri ini. Nanti rumahku
berhalaman luas, di pinggir Jakarta, dan ... ada seorang istri cantik yang jago
masak. Anak laki-laki kami cerdas, jago main game. Istriku bawa sepiring kue
buatan sendiri yang masih panas, memanggil-manggil aku dan anakku yang
keasyikan main game..
Starla : Tampilan Superman, isinya Suparman.
Che : Setidaknya aku bisa menghargai perasaan orang.
Starla : Kamu pikir aku nggak bisa?
Che : Gini analoginya. Aku suka lukisan. Tapi untuk
punya satu, aku bakal berkunjung ke puluhan galeri dulu, baru menentukan
pilihan. Nah, kamu itu kolektor. Kamu boyong apa saja yang kira-kira bagus,
tapi bukan untuk dimiliki. Kamu jual lagi barang-barang berharga itu kayak
dagang sembako.
Starla : Kamu ngomong apa sih sebenarnya?
Che : Aku lagi bicara soal Rako, lalu si produser
rekaman, si gitaris, kontraktor, foto model, aktor sinetron, atlet basket,
dosen, pengacara, pengusaha restoran, sampai gay yang mau jadi straight demi
kamu. Mereka bertekuk lutut demi kamu bawa pulang. Tapi semuanya lewat gitu aja
barang dagangan. Kamu nggak mau memiliki dan dimiliki siapa pun. Tapi kenapa
terus-terusan mencari dan menyakiti orang?
Starla : Aku juga bingung apa yang sebenarnya kucari.
Yang jelas aku nggak bisa kayak kamu. Bertahan dalam kesepian.
Che : Kesepian? Hei...
Starla : Selama ini kamu pikir apa artinya hidup kamu
yang konstan kayak mesin pabrik? Lagu-lagu pembangkit mood yang kamu racik
kayak apoteker bikin obat? Kamu kesepian.
Starla : Hidup kayak robot adalah satu-satunya cara
yang kamu tahu untuk melindungi dirimu dari sepi. Kamu takut sama spontanitas.
Kamu takut lepas kendali. Kamu ingin cinta, tapi takut jatuh cinta. But you
know what? Kadang-kadang kamu harus terjun dan basah untuk tahu air, Che. Bukan
cuma nonton di pinggir dan berharap kecipratan.
Che : Oke, Miss Freud saya juga punya analisis tentang
kamu. Selama ini, kamu mengisi kekosonganmu dengan sibuk mengisi kekosongan
orang lain. Saking kamu sibuk sendiri, mereka nggak pernah diberi kesempatan
untuk mengisimu balik. Jadi wajar aja kalau nggak satu pun dari mereka bisa
memuaskan kamu. Kamu selalu merasa ada yang kurang. Tadinya saya pikir dunia
ini nggak adil, Starla. Ternyata saya salah. Dunia ini adil. Cause you know
what? Ke mana-mana kamu selalu kelihatan berdua. Tapi sebenarnya kamu sendiri.
Selalu sendiri.Nah kembali ke analogimu tentang air itu, kamu
memang terjun ke air. Tapi kamu pakai baju selam.
Starla : Kamu benar. Ternyata kita sama, Che. Aku dan
kamu sama-sama manusia kesepian. Bedanya, aku mencari. Kamu menunggu.
Dari cerpen ini aku sadar sih, pertama kalo ngomongin tentang jatuh cinta mau gak mau harus nerima segala konsekuensinya. Kalo kecebur, yaudah berenang dan jangan berharap buat gak basah karena itu gak mungkin kan? Yang kedua, jangan sibuk ngisi kekosongan orang lain tapi gapernah ngizinin orang lain ngisi kita. Kayak postingan salah satu sahabat saya di blognya nih Nindy's blog
I always believe that a relationship is a two-way street. Entah itu hubungan ayah – anak, suami – istri, atau sepasang sahabat. Karna itu, sebuah hubungan perlu diperjuangkan dua pihak. Dan bagiku, memperjuangkan tuh nggak melulu tentang menyatakan sayang, atau menolong di saat susah dan menemani di saat suka.
Mengijinkan dia untuk menolong kita saat susah, menghadirkan dia untuk menemani kita saat suka… bagiku juga sebuah bentuk perjuangan. Karna pada dasarnya, manusia itu juga perlu merasa dibutuhkan.
Biarkan hubungannya menjadi timbal balik, saling memberi, saling meminta. Saya tuh paling kesel kalo ada yg nggak mau minta tolong dan mendem semua sendiri, tapi ujung-ujungnya bakal bilang “dia nggak mau ngertiin aku :(” atau “dia nggak pernah ada buat aku :(” Ya elu nggak bilang. Kita dikasih kemampuan komunikasi tuh dipake, jangan pake bahasa kalbu, w kagak paham ((kok mara mara))
Sebuah hubungan itu… tentang hadir dan menghadirkan. Jangan egois maunya hadir tapi nggak pernah ngijinin dia buat hadir. So, tell him when you need him. If he loves you, he would be happy to be there either at your lowest point or your top. Let him be. ((Enggak, saya nulis ini bukan karna berantem ama pacar. Saya masih nggak punya pacar. Makasih.))
No comments:
Post a Comment