“Lo punya hak untuk bahagia, Ca. Gue–gue punya tanggung jawab untuk bahagia,” Adit memainkan sendok di dalam cangkir.Kica menerawangi langit-langit, tidak ada apa-apa di sana.“Menjadi bahagia itu urusan masing-masing orang. Lo nggak perlu merasa bersalah apalagi berdosa kalau lo bahagia, sementara orang lain enggak. Yang punya tanggung jawab menjadi bahagia dan membahagiakan diri, ya, adalah diri masing-masing orang, Ca.”Mata Kica mulai tergenang. Kak Adit ngaku.“Kalau kebahagiaan kita terletak pada bahagianya orang lain gimana, Kak?”“Sungsang. letak kebahagiaan harusnya di dalam, bukan di luar.”“Kalau orang lainnya ada di dalam gimana, Kak?”Adit meneguk kopinya. Sudah dingin.“Bisa jadi seseorang berada di dalam hati kita, Ca. tapi nggak berarti urusan dalam hatinya–urusan kebahagiaannya–menjadi tanggung jawab kita,” Adit menjeda lama, “Jangan menggantungkan kebahagiaan diri sendiri sama orang lain, ya, Ca. sama siapapun, jangan. dan jangan pernah berharap lo menjadi sumber kebahagiaan orang lain, jangan.”“Supaya kita tetap bahagia apapun keadaannya?”Adit menggeleng, “supaya kita inget bahwa menjadi bahagia adalah tanggung jawab kita.”
-Teman Imaji
No comments:
Post a Comment