Sesuai dengan judul, aku memang baru saja bangkit dari "kematian". Bukan
berarti aku jadi zombie trus makanin otak dan organ tubuh yang masih
hidup, tapi aku masih diberi kesempatan kedua untuk hidup. Siapa yang
memberi ? Tuhan, atau apapun kamu menyebutnya, terserah.
Disinilah musibah itu terjadi.
Tepat sebelum aku menggok ke Gubeng Kertajaya, aku lihat kerumunan anak yang lagi nyangkruk di
daerah Depot Slamet. Karena aku kira mereka orang biasa, aku pun
lengah. Tepat waktu aku dalam perjalanan kembali lewat jembatan viaduk
yang mengarah ke persimpangan Delta, Stasiun Gubeng lama dan Hotel
Sahid, aku dipepet rombongan anak-anak yang naik motor, dan aku
ditendang jatuh.
Brengsek.
Siapa mereka ? Apa Salahku ?
Belum sempat aku bangun, satu diantara mereka bilang "kon mari ngantemi adekku yo? (kamu
habis memukuli adikku ya?) . Karena aku gak tau adeknya siapa dan juga
gak tahu bahwa hal itu adalah modus umum pencurian, (btw kenal adeknya
aja nggak)akhirnya aku ngeyel "aku gak kenal adekmu, C*k. Lantas,
salah satu pelaku ada yang mau ngambil sepedaku (yang dia akui sebagai
sepedanya). Karena aku gak merasa salah dan kebetulan lagi kalap, aku
tendang dia. 2 orang sempet jatuh kutendang, sebelum akhirnya mereka
ngeroyok aku. Sakit bekas pukulan gak kurasakan, entah kenapa. Ditengah
perkelahian itu aku berhasil megang kendali gas sepedaku dan teriak
"allahuakbar", tapi aku diserang dari belakang.
Di akhir pengeroyokan, salah satu dari mereka ngeluarkan celurit dari
tas. Mungkin karena aku nggak bisa dirobohkan dan juga mereka kesal
karena aku sebagai korbannya masih sempat ngelawan dan gak takut sama
sekali. Salah satu dari mereka ada yang teriak, "copot helmnya!" . Dalam
hati aku mikir, waduh bakal gak selamet aku. Si pembawa celurit
bolak-balik menghantam helmku dengan celurit itu selama lebih dari 10
kali serangan. Untungnya helmku jenis fullface yang tebal, jadi
kepalaku nggak terekspos langsung sama senjata itu. Begitu ngeliat
celurit itu, aku pasrah dan berserah diri. Kalau memang setelah itu aku
bakal mati, aku terima. Kalau aku tetap hidup, aku terima.
Tiba-tiba, pandanganku jadi jelas. Helm yang aku pakai seakan-akan lepas
dan hilang entah kemana. Begitu pengeroyokan selesai, aku cuma bisa
teriak "apa salahku ya allah". Sekujur tubuhku lemas kehilangan tenaga.
Darah mengucur dari kepala, tangan kiri bergeser ke bawah dan
pergelangan tanganku robek kena senjata tajam. Dari kejauhan, aku lihat
motorku dibawa lari sama kerumunan rampok ingusan itu. Aku cuma pasrah,
dan berusaha minta tolong sebisaku.
Tiba-tiba di depanku melintas mobil ambulans dengan logo partai politik
x. Aku sempet melambaikan tangan, dan ambulans itu melengos pergi. Dari
tempatku terduduk, aku teriak "politik t**k'. Aku kesal, karena
pertolongan yang paling aku butuhkan itu malah melengos gitu aja.
Akhirnya aku teriak-terak terus minta tolong, dan orang dari bawah
kolong jembatan berdatangan. Mereka sebetulnya dengar ada ribut-ribut
tapi ragu menolong karena ada yang bawa celurit. Kemudian mereka tanya
identitasku, dan menelepon bapakku. Karena sulit dihubungi, aku langsung
dicarikan tumpangan ke rumah sakit (kebetulan TKP dekat RSUD Dr.
Soetomo).
Karena lama, aku tidur sebentar. Dalam keadaan luka parah itu, aku masih
sempat-sempatnya tidur. Yang kebayang di pikiranku saat itu cuma
makhluk-makhluk bernama Digimon. Iya, digimon yang pernah aku bahas di blog ini.
Gambaran tentang makhluk ini muncul terus di pikiranku. Karena
pikiranku makin ngawur, aku bangun lagi. Mungkin emang benar kali ya,
orang yang udah mau mati itu pikirannya ngelantur kemana-mana. Bukannya
nginget dosa-dosa yang aku telah lakukan, yang aku ingat malah...
Digimon.
Tumpangan berupa ojek pun datang. Aku diapit di tengah, satu orang warga
duduk di belakang. Akhirnya aku dibawa ke rumah sakit Dr. Soetomo dalam
keadaan sadar. Aku masih inget ketika dokter meriksa kondisiku, dan aku
masih inget juga kalau mereka selalu ngingetkan aku supaya aku gak
mejamkan mata. Takutnya, aku bablas dan meninggal seketika.
Akhirnya, bapakku datang dan beliau shock lihat keadaanku. Aku minta
maaf kalau aku bohong, dan aku cerita kalau aku dikeroyok 8 orang.
Bapakku menghentikan omonganku sampai disitu, karena takut aku
kecapekan.
Segera setelah itu, bajuku dirobek dan aku dioperasi seketika. Karena
menurut dokter paru-paruku bermasalah, rusuk kiriku dibedah dan
dipasangi selang yang disambung ke inhaler. Sakitnya luar biasa,
gak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Selanjutnya tititku dipasangi
selang kateter buat ngebantu saluran urinku selama dioperasi. Setelah
aku dipasangi alat bantu pernapasan, aku gak ingat apa-apa lagi.
Gelap. Hampa. Eksistensiku serasa hilang.
Apa aku mati ?
---------------------------------------------------
-------------------^-----------^^^^^------^^^---
--------^^---^^----^^------^^^^--------^^^----
Aku membuka mata dan terdengar suara,"alhamdulillah".
Terima kasih Tuhan.
Aku masih hidup.
dialami oleh senior saya sendiri dari SMAN 5 Surabaya, Mas Bima
No comments:
Post a Comment