Aku tidak tahu apa yang kuharapkan darimu.
Tidak pun berani kukhayalkan misalnya, tentang suatu pagi yang cerah,
dimana kita bersepeda di taman. Tidak juga tentang sore yang mendung, di
mana aku menemanimu menghabiskan seri permainan komputer yang belum
bosan kau mainkan. Terlebih membayangkan jadi objek bidik kamera
kebanggaanmu pada siang terik, berlatar belakang padang ilalang.
…..
…..
Aku heran mengapa kau begitu membekas, padahal hanya masuk sebentar.
Bekas-bekas rasa senang, bekas-bekas pengharapan. Bekas-bekas kebaikan,
bekas-bekas basa-basi. Seperti baru kau lah satu-satunya yang tidak
menyeretku keluar dari orbit.
…..
…..
Tapi, tetap saja aku tak tahu apa yang kuharapkan darimu. Kalaupun
ada, batasnya rendah dan sederhana. Aku mengharapkan balasan kabar.
Ketika kabar balasan datang, yang tak bisa bohong adalah hati yang
senang. Aku mengharapkan perjumpaan singkat. Ketika sampai barisan
dibubarkan batang hidungmu tak kunjung terlihat, yang tidak bisa bohong adalah hati yang kecewa dan rindu yang menguap ke udara. Jadi itu, apa namanya?
Taste Buds (Apa Namanya?) ; Kinsia Eyusa Merry
tsalitsafajrina.wordpress.com
No comments:
Post a Comment