Pernah baca Time Keeper karangan Mitch Albom gak? Disitu diceritain kalo zaman dulu, orang bener-bener menikmati hidup mereka, sampe akhirnya ditemukan kata "waktu" dan orang-orang mulai coba mengukur waktu dan akhirnya terciptalah istilah jam, hari, bulan bahkan tahun. Semuanya terukur dan akhirnya manusia jadi gak menikmati waktu sama sekali. Ketika sesuatu hal terukur, kita jadi punya standar-standar tertentu dihidup. Contohnya nih, beberapa orang ngukur sukses dengan harus menang suatu lomba, pergi konferensi di luar negeri atau bahkan lulus kuliah sambil dapet predikat cumlaude. Tapi sadar gak kalo kita bermanfaat buat orang lain itu juga termasuk sukses? Atau ada orang yang ngukur rasa kasih sayang seseorang itu dari kejutan yang dikasih dihari ulang tahun atau kado-kado mahal. Tapi sadar gak kalo orang tua kita berusaha kasih nafkah tiap hari juga udah termasuk sayang? Setelah baca Time Keeper entah kenapa jadi nyadar kalo dalam beberapa hal, sebuah standar pengukuran itu gak baik.
"As mankind grew obsessed with its hours, the sorrow of lost time became a permanent hole in the human heart. People fretted over missed chances, over inefficient days; they worried constantly about how long they would live, because counting life’s moments had led, inevitably, to counting them down. Soon, in every nation and in every language, time became the most precious commodity."
— Mitch Albom (The Time Keeper)
No comments:
Post a Comment